Unik

Ini Dia Kampung Lontong di Surabaya

Siapa tak kenal lontong? Makanan berbahan beras dan dibalut daun pisang ini biasanya disuguhkan untuk melengkapi lontong mie, sate, gado-gado, dan makanan khas Surabaya rujak cingur.

Di Surabaya, lontong juga identik dengan nama sebuah kampung di Kelurahan Kupang Krajan. Tepatnya di Jalan Banyu Urip X, Surabaya. Warga menyebut kampung ini dengan sebutan Kampung Lontong. Dan layaknya kampung lain, Kampung Lontong juga berada di pemu****n padat penduduk. Yang membedakan, di kampung ini, sebagian besar warganya hidup dengan memproduksi lontong.


Umanto (57), warga Kampung Lontong mengatakan, sebutan Kampung Lontong muncul pada tahun 1980-an. Sebelumnya, warga kampung yang aktif membuat lontong hanya beberapa orang saja. Lalu perlahan tapi pasti, bermunculan rumah-rumah produksi lontong yang rata-rata melibatkan para ibu rumah tangga.

"Dulu yang buat lontong masih sedikit. Lalu tahun 1980-an, banyak yang ikut memproduksi lontong. Lama-lama ya seperti sekarang ini. Warga tiga kampung ramai-ramai bikin lontong," kata Umanto. Dari fenomena ini, kawasan kampung di Kupang Krajan ini mulai populer dengan sebutan kampung lontong.


Sama seperti warga yang lain, setiap hari, Umanto bisa membuat 400 - 800 lontong. Untuk memproduksi lontong sejumlah ini, ia butuh dua karung beras dan 500 helai daun pisang. Soal kebersihan dan rasa, pembeli rata-rata tidak khawatir. Karena lontong di tempat ini diproduksi dengan memperhatikan kebersihan dan standar kesehatan. Misal, warga sepakat untuk tidak menggunakan bahan pengawet sama sekali.

"Soal kualitas, saya berani menjamin. Lontong-lontong saya bisa bertahan hingga 2 hari. Bukan karena menggunakan bahan pengawet. Tapi proses merebusnya yang hati-hati. Saya merebus lontong dari jam 2 siang sampai nanti menjelang pagi," ujar Umanto sambil memotong gulungan daun pisang.

Usai produksi, lontong-lontong buatan warga Banyu Urip Lor ini kemudian didistribusikan ke berbagai pasar yang ada di Surabaya dan sekitarnya. Mulai dari Pasar Jarak, Simo, Tembok, Keputran, dan masih banyak lagi. Selain memasok di pasar wilayah Surabaya, produk mereka juga sampai ke Pasar Larangan Sidoarjo dan Balongpanggang Gresik.


Untuk menghindari persaingan yang tidak sehat, warga membuat kesepakatan. Setiap pasar hanya boleh dipasok empat sampai lima 5 pembuat lontong saja.

Kini, Umanto dan warga lain bisa bernafas lega. Dari lontong, mereka rata-rata mendapat penghasilan yang relatif baik. Seperti Umanto misalnya, dikenal sebagai salah satu produsen lontong yang sukses. Berkat usahanya yang sudah ditekuni sejak tahun 1997, bapak tiga anak ini bisa membiayai anaknya hingga selesai perguruan tinggi.


Sumber

Post a comment

:ambivalent:
:angry:
:confused:
:content:
:cool:
:crazy:
:cry:
:embarrassed:
:footinmouth:
:frown:
:gasp:
:grin:
:heart:
:hearteyes:
:innocent:
:kiss:
:laughing:
:minifrown:
:minismile:
:moneymouth:
:naughty:
:nerd:
:notamused:
:sarcastic:
:sealed:
:sick:
:slant:
:smile:
:thumbsdown:
:thumbsup:
:wink:
:yuck:
:yum:

Next Post
Posting Lebih Baru
Previous Post
Posting Lama